Rabu, 18 Maret 2015
Militan ISIS dan al-Qaeda, dalam kesepakatan itu bersedia mengakhiri permusuhan dan berjuang bersama untuk melawan pemberontak moderat Suriah dan pasukan Kurdi yang merupakan sekutu AS.
Laporan bergabungnya militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan al-Qaeda itu dilansir kantor berita AP, Jumat (14/11/2014). Dalam laporan yang mengutip pejabat oposisi Suriah, AP, melaporkan bahwa militan ISIS dan al-Qaeda telah melakukan pertemuan pada 2 November 2014 di Kota Atareb, sekitar 20 km sebelah barat Aleppo, Suriah.
Pertemuan rahasia itu, juga dihadiri militan Khorasan, militan al-Qaeda dari Afghanistan dan Pakistan, dan anggota kelompok pemberontak Suriah Ahrar al-Sham.
Al-Nusra dan kelompok ISIS sebelumnya saling serang selama lebih dari satu tahun untuk berebut kepemimpinan dalam upaya memerangi pasukan rezim Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Masih menurut laporan itu, faksi moderat di Suriah yang sudah dianggap lemah dan tidak terorganisir, sekarang akan menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Seorang pejabat AS yang berbicara dalam kondisi anonim mengatakan kepada AP, bahwa meskipun tidak ada informasi yang kredibel mengenai bersatunya ISIS dan al-Qaeda, gencatan senjata antara dua kelompok militan di Suriah itu sangat mungkin.
Sementara itu, sumber kedua seorang komandan brigade Tentara Pembebasan Suriah yang didukung Barat, yang dikenal sebagai Abu Musafer, mengatakan, bahwa dia mengetahui jika anggota berpangkat tinggi dari al-Nusra dan ISIS memang bertemu pada 2 November 2014.
Menurutnya, ada dua kesepakatan dalam pertemuan rahasia itu. Pertama, menghentikan pertikaian antara al-Nusra dan ISIS. Kedua, semua kelompok militan bersama-sama membuka front atau perlawanan terhadap pejuang Kurdi di beberapa daerah di Suriah utara.
Islamic State Iraq and Sham atau Negara Islam Irak dan Sham (ISIS) meminta Palestina untuk bersabar dengan perlawanan seadanya dari pejuang Hamas, ISIS menekankan bahwa pasukannya akan datang untuk melawan tindakan "barbar Yahudi".
Dilansir Ibtimes.com (July 30, 2014), Dalam pernyataan yang dirilis via akun Twitter yang berafiliasi dengan ISIS itu, menyatakan bahwa pembantaian Muslim benar-benar sedang terjadi di Gaza, Palestina.
"Adapun pembantaian yang terjadi di Gaza terhadap pria Muslim, perempuan dan anak-anak, maka Negara Islam (ISIS) akan melakukan segalanya dalam batas kemampuannya untuk terus menerobos setiap murtad yang berdiri sebagai penghambat di jalan menuju Palestina," kata kelompok itu.
Pernyataan dari ISIS tampaknya menjadi respon terhadap kritik yang mempertanyakan mengapa kelompok dan pemimpinnya Abu Bakr al-Baghdadi tidak datang untuk mendukung Palestina.
Menjawab itu, kata pernyataan itu: "Ini bukan cara Negara Islam untuk melemparkan kata-kata kosong, kering dan munafik kecaman dan belasungkawa seperti 'tawaghit' Arab di PBB dan Liga Arab."
Para militan ISIS berjanji bahwa tindakan lebih keras daripada kata-kata.
"Ini hanya masalah waktu dan kesabaran sebelum (Negara Islam) mencapai Palestina untuk melawan orang-orang Yahudi barbar dan membunuh orang-orang dari mereka bersembunyi di balik pohon Gharqad - pohon orang Yahudi," pernyataan itu menyimpulkan.
Konflik Gaza sampai sekarang telah mengklaim lebih dari 1.242 jiwa dan setidaknya 7.000 terluka sejak perang antara Israel dan Hamas mulai, menurut Departemen Kesehatan Palestina, dilaporkan CNN. Meskipun peningkatan kecaman internasional atas konflik Israel tidak maupun Hamas siap untuk mengalah.
Menurut Israel National news, juru bicara ISIS Nidal Nuseiri menegaskan kembali bahwa prioritas kelompok itu menaklukkan "Bayt el-Maqdis" (Yerusalem) dan menghancurkan Negara Israel. Dia mencatat bahwa itu adalah agenda utama "jihad" mereka.
"Kelompok ini, bagaimanapun, sebelum mengambil Israel ingin melemahkan terus United State di negara-negara Arab; dan mengambil alih Irak, Suriah, Lebanon, Yordania dan mungkin Gaza," katanya.
Sementara ISIS telah menyebutkan bahwa dalam sebuah, video terbaru yang dirilis di YouTube kelompok pejuang Negara Islam telah dibentuk di Palestina. Dalam video tersebut, pejuang Negara Islam terlihat menembakkan roket ke wilayah Israel. Demikian International Bussines Times.
Senin, 16 Maret 2015
Ex-hostage ISIS from Spain states, that ISIS establish Guantanamo-style prison. Photo: Illustration / AP.
Espinosa was kidnapped on September 16, 2013 and released on March 29, 2014. In his writings, the group Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) grouping 23 hostages from 11 countries of the West in a villa in northern Aleppo, Syria.
According to him, Guantanamo-style prison built ISIS in Syria be the answer for the US who detain terrorism suspects at Guantanamo. Information from Espinosa was also he obtained from the US journalist, James Foley, who was beheaded by ISIS in 2014.
"They have this project for a long time. A (head prison guard) told us at the beginning, that they want a high-security prison that is equipped with a camera and a lot of guards, "Espinosa wrote.
"They told us that we would be here for a very long time, because we were the first people they arrested," said Espinosa who mimicked ucapann Foley before executed ISIS, as reported by Al Arabiya, an overnight (15/3 / 2015).
Espinosa went on, there was a group of dozens of journalists Europe, America and Latin America, as well as humanitarian workers were detained in the prison complex. Most of them handed over to the executioner ISIS for execution.
SINDO news source of news
Espinosa diculik pada 16 September 2013 dan dibebaskan pada tanggal 29 Maret 2014. Dalam tulisannya, kelompok Islamic State Iraq and Syria (ISIS) mengelompokkan 23 sandera dari 11 negara-negara Barat di sebuah vila di Aleppo utara, Suriah.
Menurutnya, penjara ala Guantanamo yang dibangun ISIS di Suriah menjadi jawaban bagi AS yang menahan para tersangka kasus terorisme di penjara Guantanamo. Informasi dari Espinosa itu juga dia peroleh dari wartawan AS, James Foley, yang dipenggal oleh ISIS pada tahun 2014.
“Mereka memiliki proyek ini untuk waktu yang lama. Seorang (kepala penjaga penjara) mengatakan kepada kami di awal, bahwa mereka menginginkan penjara dengan tingkat keamanan tinggi yang dilengkapi kamera dan banyak penjaga,” tulis Espinosa.
“Mereka mengatakan kepada kami bahwa kami akan berada di sini untuk waktu yang sangat lama, karena kami adalah orang-orang pertama yang mereka ditangkap,” lanjut Espinosa yang menirukan ucapann Foley sebelum dieksekusi ISIS, seperti dilansir Al Arabiya, semalam (15/3/2015).
Espinosa melanjutkan, ada kelompok yang terdiri dari puluhan jurnalis Eropa, Amerika dan Amerika Latin, serta para pekerja kemanusiaan yang ditahan di kompleks penjara itu. Sebagian dari mereka diserahkan ke algojo ISIS untuk dieksekusi.
sumber berita dari sindo news
Beberapa orang dari sekte Yazidi di Irak telah mengajukan diri untuk ikut melawan ISIS
Vatikan mengatakan kekuatan militer penting untuk dilakukan demi menghentikan serangan terhadap umat Kristen dan minoritas Timur Tengah lainnya oleh kelompok Negara Islam (ISIS) jika tidak ada solusi politis.
Uskup Agung Silvano Tomasi, diplomat tinggi Vatikan di PBB di Jenewa, mengatakan jihadis melakukan "genosida" dan harus dihentikan.
Vatikan biasanya menentang intervensi militer di kawasan tersebut.
Namun Paus Fransiskus mengecam pemenggalan atas 21 pengikut Kristen Koptik Mesir pada bulan Februari lalu oleh ISIS di Libia.
Uskup Agung Silvano Tomasi mengatakan hak semua kelompok minoritas harus dilindungi
Kelompok militan itu menyasar kelompok-kelompok keagamaan minoritas di wilayah Suriah dan Irak yang mereka kuasai.
Ribuan orang lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Dalam wawancara dengan situs Katolik AS Crux, Uskup Agung Tomasi mengatakan, "Yang dibutuhkan adalah koalisi terkoordinir dan terencana dengan baik untuk melakukan segala yang mungkin untuk mencapai solusi politis tanpa kekerasan.
"Tetapi jika hal itu tidak mungkin, maka penggunaan kekuatan militer menjadi penting."
Ia menambahkan, "Kami harus menghentikan genosida ini. Jika tidak kami akan menangis di masa depan menyesali kenapa kami tidak melakukan apa apa, kenapa kami mengizinkan tragedi mengerikan ini terjadi."
Minggu, 15 Maret 2015
"Mereka ditahan karena masuk tanpa izin dan tidak memberitahu kami akan kunjungan mereka," ujar Datuk Noor Rashid, Wakil Kepala Polisi Diraja Malaysia (PDRM) seperti dikutip dari Asia One, Ahad (15/3).
Rashid mengatakan, ke-17 orang tersebut mendatangi pos kepolisian Sabah dengan berpakaian preman dan bersenjata lengkap. Mereka hendak meminta kembali tersangka kabur yang ditangkap kepolisian Sabah.
Tersangka tersebut adalah Syarif, pelaku pembunuhan salah satu Anggota Kodim 0911/Nunukan, Sersan Satu Tata Adi Cahyono.
"Mungkin mereka tidak punya niat buruk. Mereka ingin mengambil kembali tersangka tetapi mereka tidak menggunakan jalur formal," katanya.
Noor Rashid mengatakan, kedatangan anggota Polri dan TNI tidak membawa dokumen-dokumen yang sah. "Mereka tidak diperintahkan untuk membawa tersangka kembali oleh atasan," lanjutnya.
Dikatakan Rashid ke-17 orang tersebut melintasi perbatasan Malaysia melalui Pulau Sebatik pada Jumat (13/3) dini hari waktu setempat dengan menggunakan sepeda motor dan speedboat.
Dalam penangkapan tersebut polisi Sabah juga mengamankan 12 pucuk senjata api yang terdiri dari delapan pistol dan empat revolver beserta dengan amunisi. Mereka nantinya akan didakwa melanggar Pasal 6 Ayat 3 Undang-Undang Keimigrasian 1963 dan Pasal 8 Undang-Undang Senjata Api 1960 karena membawa senpi tanpa izin.
"Namun kami akan mempertimbangkan semua aspek, termasuk hubungan baik kita, serta hukum negara kita," tambahnya.
Rabu, 11 Maret 2015
Berikut sejumlah fakta terkait bocah ISIS yang mengeksekusi spionase negeri Zionis tersebut.
1. Berusia 12 Tahun
Video berdurasi 13 menit, yang diterbitkan oleh Furqan media outlet, memperlihatkan seorang anak kecil yang mengeksekusi Musallam.
''Video berdurasi 13 menit yang dirilis pada Selasa (12/3) itu memperlihatkan bocah yang tampaknya berusia sekitar 12 tahun,'' sebut laporan nydailynews.com.
2. Singa Khalifah
Musallam (19), yang mengenakan jumpsuit warna oranye, didudukan di sebuah ruang. Musallam membuat pengakuan bahwa dia dilatih oleh badan intelijen Israel (Mossad).
Si bocah eksekutor bersama seorang dewasa kemudian menggiring Musallam ke lapangan. Musallam pun kemudian dieksekusi dengan ditembak kepalanya oleh si bocah eksekutor.
''Dia adalah salah satu anak singa kekhalifahan,'' sebut lelaki dewasa itu merujuk pada bocah sang eksekutor sebelum mengeksekusi Musallam seperti dikutip express.co.uk.
3. Logat Prancis
Bocah eksekutor kemungkinan mengerti bahasa Prancis. Karena, lelaki yang lebih dewasa itu memperkenalkan bocah eksekutor dengan menggunakan bahasa Prancis.
Seperti dikutip express.co.uk, lelaki yang dewasa itu juga memberikan pesan kepada Yahudi.
''Kami melihat ke arah Yerusalem,'' katanya. ''Allah melindungi kami untuk membunuh para Yahudi di tanah mereka di Prancis.''
4. Empat Tembakan
Bocah eksekutor menodongkan pistol tepat di kepala Musallam. Dengan sekali tembakan, Musallam langsung roboh. Bocah eksekutor kemudian melepaskan tiga tembakan ke arah tubuh Musallam lalu berteriak 'Allahu Akbar'.
sumber berita dari republika.com
Senin, 16 Februari 2015

MADHON NEWS, JAKARTA - rakyat indonesia berharap kepada pemerintahan indonesia untuk menindak tegas pihak malaysia,
semakin hari akun twitter bernama MALAYSIA_JAYA selalu melakukan propaganda,
semoga ke depannya nanti secara cepat,
pihak pemerintahan indonesia menindak tegas majelsi malaysia,
dan mendesak majelis malaysia untuk menghapus akun twitter bernama MALAYSIA_JAYA.
Minggu, 15 Februari 2015
MADHON NEWS, LONDON — The Copenhagen police said on Sunday that they had shot and killed a man they believed carried out two attacks that left two people dead, one at a cafe and one outside a synagogue, and wounded at least five policemen.
Kamis, 12 Februari 2015
MADHON NEWS, Darfur - Human rights activist group Human Rights Watch (HRW) reported Sudanese soldiers raped at least 221 women and adolescents in Darfur during the attack from house to house last year.
HRW's Africa director Daniel Bekele call this new abomination in the list of atrocities in Darfur. Reports of mass rapes in late October Tabit then quickly spread through the radio up abroad.
The UN Security Council asked the Sudanese conduct a full investigation. However, Sudanese President Omar al-Bashir is precisely the mission of the UN Human Rights office ordered closed. He refused to allow the UN mission visited the village again.
The Sudanese government said in their investigation none of the cases of rape. However, in the HRW report documented 27 separate rape and get additional 194 cases.
The HRW report is based on more than 130 telephone interviews with victims, witnesses and army defectors. They said the young girl 10 years old Sudanese soldiers raped. A number of women abused several times and performed in front of their families.
MADHON NEWS, DARFUR -- Kelompok penggiat hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) melaporkan tentara Sudan memperkosa sedikitnya 221 perempuan dan remaja di Darfur selama serangan dari rumah ke rumah tahun lalu.
Direktur HRW Afrika Daniel Bekele menyebutnya kekejian baru dalam daftar kekejaman di Darfur. Laporan pemerkosaan massal di Tabit akhir Oktober lalu dengan cepat menyebar melalui radio hingga ke luar negeri.
Dewan Keamanan PBB meminta Sudan melakukan penyelidikan penuh. Namun, Presiden Sudan Omar al-Bashir justru memerintahkan kantor misi HAM PBB ditutup. Dia menolak mengizinkan misi PBB mengunjungi desa itu lagi.
Pemerintah Sudan mengatakan dalam penyelidikan mereka tidak ada satupun kasus pemerkosaan. Namun, dalam laporannya HRW mendokumentasikan 27 pemerkosaan terpisah dan mendapatkan tambahan 194 kasus.
Laporan HRW didasarkan pada lebih dari 130 wawancara telepon dengan korban, saksi mata dan tentara pembelot. Mereka mengatakan gadis berusia paling muda 10 tahun diperkosa tentara Sudan. Sejumlah perempuan dilecehkan beberapa kali dan dilakukan di hadapan keluarga mereka.
Minggu, 08 Februari 2015
"We are obviously deeply concerned by these reports," said National Security Council spokeswoman Bernadette Meehan. "We have not at this time seen any evidence that corroborates ISIL's claim."
The family of aid worker Kayla Mueller, of Prescott, Arizona, also released a statement late Friday, saying they still were hopeful she is alive.
"This news leaves us concerned, yet we are still hopeful that Kayla is alive," Carl and Marsha Mueller said of their 26-year-old daughter. They asked her captors to "respond to us privately."
The Islamic State said Mueller was killed when a Jordanian airstrike hit the building where she was being held in the Syrian city of Raqqa. She had been captured when she left an Aleppo hospital she was visiting in 2013.
Jordan has been bombarding Islamic State targets since Thursday, following the release this week of a video showing the murder of a Jordanian fighter pilot who was captured in Syria in December. The slickly produced video shows pilot Muath al-Kaseasbeh locked in a cage, doused with fuel and burned alive.
The claim that she was killed in an airstrike was greeted with skepticism, after Jordanian authorities said their pilot was killed a month before IS released the video showing his death.
Jordanian officials call Islamic State's claim "criminal propaganda." Foreign Minister Nasser Judeh said on Twitter it is "an old and sick trick used by terrorists and despots for decades – claiming that hostage human shields held captive are killed by air raids."
U.S. State Department spokeswoman Marie Harf said the State Department has acknowledged there are Americans being held overseas, including by the Islamic State, but said she could not get into any further details about this specific case.
Those who know Kayla say she was deeply moved by the suffering of civilians stuck in poverty and caught up in war and terrorism. She had worked in Syria and volunteered with aid groups in the West Bank and India.
On Friday in Jordan's capital, Amman, thousands of people flooded the streets in support of the murdered pilot.
The demonstrators marched through the city after Friday prayers at the al-Husseini mosque, waving Jordanian flags and chanting slogans against the Islamic State group.
Jordan said recent airstrikes against Islamic State targets are only the beginning of its retaliation.
"The Jordan army's response to ISIS [Islamic State militants] and what they have done to Muath and all of the other innocent people is totally justified," said Ayman Khamoudeh, a doctor taking part in Friday's protests. "If no one puts a struggle against them and fights them, who else will fight them?"
Jordanian warplanes launched dozens of airstrikes against the Islamic State group in Syria and Iraq Thursday after King Abdullah vowed an "earth-shaking" response to the killing.
Abdullah visited Kaseasbeh's family at their home Thursday. He said Jordan will continue the fight to defend its people and religion.
Judeh, the foreign minister, told CNN television late Thursday that Jordan will go after Islamic State militants "wherever they are, with everything we have."
"We're going to go after them and we will eradicate them," said Judeh, who referred to Islamic State fighters as "cowards."
U.S. Defense Department officials said Thursday the Pentagon has moved aircraft and pilots to northern Iraq to better position themselves in search and rescue missions in Iraq and Syria. Some of the assets were moved from Kuwait.
Also Thursday, a leader of Kurdish peshmerga fighters told VOA his ground forces are in need of military assistance in their fight against Islamic State
"NATO and the United States should understand that we need political and military assistance," said commander Wasta Rasul. "I ask formally that their ground forces participate in the war with us. And why should the Kurds do it alone as we fight on behalf of the world?"
Jumat, 06 Februari 2015
MADHON NEWS, AMMAN - A statement purportedly from the Islamic State claims a young American held hostage was killed in an airstrike on Friday.
According to the group, the 26-year-old humanitarian worker died as a result of coalition airstrikes just outside the Syrian city of Raqqa, the group's defacto capital in the country's east.
The statement identified the woman as Kayla Jane Mueller of Arizona.
The message, which could not be independently verified but appeared on a website affiliated with ISIS, said the woman was killed during noon prayers in airstrikes that targeted "the same location for more than an hour." The statement also claimed that not one of ISIS' own fighters were killed.
It published photos allegedly of the bombed site, showing a damaged three-story building along with the message.
US State Department Spokesperson Marie Harf said, during a press briefing shortly after the message surfaced, "I cannot confirm those reports in any way. Obviously people are looking into them."
What we know about the American aid worker
The aid worker's identity has not been disclosed out of concerns for her safety.
The White House has repeatedly said that the U.S. was working to secure her release, and confirmed on January 24 that she was still under the control of ISIS militants.
She has been held by the terrorist group for nearly two years, and was believed to be abducted in April of 2013 while serving on a humanitarian mission in the region. She had been working primarily with woman and children, delivering humanitarian aid to those displaced by the Syrian conflict.
ISIS had previously demanded $6.6 million for her release.
Some information provided by The Associated Press.
Have something to add to this story? Share it in the comments.
Selasa, 03 Februari 2015
Pilot Yordania Sedang Menjalani Hukuman Mati Dengan Di Bakar Hidup Hidup Oleh ISIS
Sebuah video yang dilansir dari New York Times, Rabu (4/2) dini hari dikatakan, pilot tersebut adalah sandera bernama Letnan Moaz al-Kasasbeh. Pilot kebangsaan Yordania itu adalah tahanan ISIS yang disekap sejak 24 Desember 2014.
Video berdurasi 22 menit itu memperlihatkan Moaz dengan baju berwarna jeruk terang dengan keadaan diikat bagian tangan ke belakang dan dikawal beberapa pasukan ISIS bersenjata.
Video tersebut berlanjut dengan tayangan pembakaran Moaz yang dilakukan di dalam istal kuda. Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Yordania atas lansiran video tersebut. Namun, diyakini oleh SITE Intelligence Group, video tersebut adalah benar.
Seperti diketahui, ISIS menawan Moaz setelah ISIS menjatuhkan pesawat tempur F-16 yang diawakinya. Pesawat tersebut melintas di langit Suriah bagian utara tempat ISIS berkuasa. Pemerintah Yordania sudah meminta agar ISIS membebaskan pilot berusia 26 tahun itu dalam suatu perundingan.
Perundingan tersebut pun sebenarnya ditanggapi ISIS. ISIS meminta agar pemerintahan di Amman membebaskan seorang perempuan yang dipenjara oleh militer Yordan sejak 2005 lalu. Namun, ISIS hanya menolak menyerahkan Moaz dalam kondisi hidup.
sumber berita ini dari REPUBLIKA.CO.ID
Posted on January 31, 2015 by creeping This is Islam 
More via CNN: ISIS: Japanese hostage beheaded
Jumat, 23 Januari 2015
MADHON NEWS- TOKYO - The fate of two Japanese citizens, Haruna Yukawa (42) and Kenji Goto (48) in the balance because of the redemption deadline requested the ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) amounted to 200 million US dollars will end today, Friday (23/01/2015) at around 12:00 pm.
Who are these two Japanese citizens?
Yukawa birth Chiba prefecture, neighboring Tokyo claiming military consultant, and like war game since childhood. His wife died of cancer.
Yukawa recorded once did attempt suicide and cut off his genitals, after its military business went bankrupt and his wife died, all that makes life was ruined.
He believes himself as the reincarnation of Queen Manchu man who spied on Japan's World War II. In Japanese society he was known as a transvestite, with the appearance of man but stylish women. His mastery of the English language is very little.
His father, Shoichi (74) said that his son considers himself a limit has been reached. Therefore, the most dangerous area was primarily a war zone can be entered to obtain weapons and traded him. Money to dangerous places it borrowed from the Japanese company. He became close to the nationalist and extreme right-wing Japanese. Therefore he approached the leader of the nationalist group Nobuo Kimoto (70), to an adviser in His company.
Previous real name is Masayuki Yukawa, then converted into Haruna Yukawa that looked more like a sexy woman. Because of this rather strange manner, Yukawa is currently lacking is given in Jepangketimbang Goto. The story of his life can be seen in part on his Facebook this https://www.facebook.com/haruna.pmc.
While Kenji Goto born 1967 Sendai City is a writer and freelance journalist for various mediaJepang, and wrote several books on the area of conflict in Sierra Leone and Rwanda conflict areas, as well as education in Afghanistan. Similarly, a book about AIDS and children in war zones, from Afghanistan to Africa. He also did not remain in the teaching of Tokyo Taisho University.
Hosei University graduate University in Tokyo in 1991, working for various media before establishing the Independent Press, 1996. He also worked for the United Nations, especially UNICEF and the UN refugee agencies.
Very good image in Japan and at least 20 years of reporting the news from various countries at war, especially in the Middle East and Africa. Focusing on humanity and human life everyday especially poor regions.
In 2006, he won the Sankei Children's Book Award for his book published in 2005 under the title Daiyamondo yori Heiwa ga Hoshii (Want Peace Than Diamonds).
His report appears much better on TV NHK and TV Asahi.
A Christian who was baptized in the 1990s and a member of the Church United Church of Christ in Japan as well as members of the church in Den-en-Chofu, Tokyo.
The story of his life can be seen on his Facebook. However, someone seems to have been removed in recent years.
MADHON NEWS- TOKYO - Nasib dua warga Jepang, Haruna Yukawa (42) dan Kenji Goto (48) di ujung tanduk karena batas waktu penebusan yang diminta pihak ISIS(Negara Islam Irak dan Suriah) sebesar 200 juta dolar AS akan berakhir hari ini, Jumat (23/1/2015) sekitar pukul 12.00 WIB.
Siapakah kedua warga Jepang ini?
Yukawa kelahiran Perfektur Chiba, tetangga Tokyo mengaku dirinya konsultan militer, dan suka permainan perang-perangan sejak kecil. Istrinya meninggal karena kanker.
Yukawa tercatat pernah melakukan upaya bunuh diri dan memotong alat kelaminnya, setelah bisnis militernya mengalami kebangkrutan dan istrinya meninggal, semua itu membuat hidupnya terasa hancur.
Dia percaya dirinya sebagai manusia reinkarnasi dari Ratu Manchu yang memata-matai Jepang untuk perang dunia II. Di masyarakat Jepang dia dikenal sebagai waria, dengan penampilan lelaki tetapi bergaya wanita. Penguasaan bahasa Inggris-nya sangat sedikit sekali.
Ayahnya, Shoichi (74) mengatakan bahwa putranya menganggap dirinya sudah mencapai limit. Oleh karena itu daerah paling berbahaya pun terutama daerah perang dimasuki untuk bisa memperoleh senjata dan diperdagangkan olehnya. Uang ke tempat-tempat berbahaya itu pinjam dari perusahaan Jepang. Dia menjadi nasionalis dan dekat dengan sayap kanan ekstrim Jepang. Oleh karena itu dia mendekati pemimpin kelompok nasionalis Nobuo Kimoto (70), untuk menjadi penasehat di Perusahaannya.
Nama aslinya sebelumnya adalah Masayuki Yukawa, kemudian diubah menjadi Haruna Yukawa supaya kelihatan lebih seksi seperti wanita. Karena sikapnya yang agak aneh ini, Yukawa saat ini kurang diberikan di Jepangketimbang Goto. Cerita hidupnya sebagian dapat dilihat di Facebook-nya ini https://www.facebook.com/haruna.pmc.
Sedangkan Kenji Goto kelahiran Kota Sendai tahun 1967 adalah penulis dan wartawan lepas untuk berbagai mediaJepang, serta menulis beberapa buku mengenai daerah konflik di Sierra Leone dan daerah konflik Rwanda, serta pendidikan di Afganistan. Demikian pula buku tentang AIDS dan anak-anak di zona perang, dari Afghanistan hingga ke Afrika. Dia juga pengajar tidak tetap di Universitas Taisho Tokyo.
Lulusan Universitas Hosei University di Tokyo tahun 1991, bekerja untuk berbagai media sebelum mendirikan Independent Press, tahun 1996. Dia juga bekerja untuk PBB terutama UNICEF dan badan-badan pengungsi PBB.
Citranya sangat baik di Jepang dan sedikitnya 20 tahun melaporkan berita dari berbagai negara yang sedang berperang terutama di Timur Tengah dan Afrika. Memfokuskan pada kemanusiaan dan kehidupan manusia sehari-hari terutama daerah miskin.
Tahun 2006, dia memenangkan Sankei Children's Book Award untuk bukunya yang terbit tahun 2005 dengan judul Daiyamondo yori Heiwa ga Hoshii (Ingin Perdamaian Ketimbang Berlian).
Laporannya banyak muncul baik di TV NHK dan TV Asahi.
Seorang Kristen yang dipermandikan tahun 1990-an dan anggota gereja United Church of Christ in Japan serta anggota gereja di Den-en-chōfu, Tokyo.
Cerita hidupnya dapat dilihat pada Facebook-nya. Namun tampaknya telah dihapus seseorang belakangan ini.
Selasa, 20 Januari 2015
Kedua sandera, berjenis kelamin pria, mengenakan pakaian oranye, terlihat berlutut di atas pasir. Sementara seorang militan dengan pakaian serba hitam, dengan wajah disembunyikan di balik kedok gelap, berdiri di antara mereka. Ia membawa pisau.
Pria itu mengritik sikap Jepang yang membantu negara-negara yang memerangi ISIS.
ISIS mengancam akan membunuh kedua sandera jika Negeri Sakura tak membayar uang tebusan sebesar US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,5 triliun. Jepang hanya diberi waktu 72 jam setelah video ditayangkan.
Jika tebusan tak dibayar dalam waktu 72 jam. "Pisau ini akan menjadi mimpi burukmu," kata pria itu, seperti dikutip dari NBC News.
Kepada BBC, Kementerian Luar Negeri Jepang mengaku mengetahui perihal rekaman vdieo tersebut. Namun, belum ada komentar lebih jauh soal itu. Sementara, keaslian video tersebut juga belum diverifikasi.
Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga mengatakan, Tokyo akan bekerja sama dengan sejumlah negara dan melakukan tindakan terbaik untuk membebaskan warga negaranya.
"Jika benar mereka (ISIS) menggunakan nyawa manusia dengan cara ini, untuk mengancam, maka itu adalah tindakan tak termaafkan. Kami merasa luar biasa marah," kata dia seperti dikutip dari NBC News.
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe saat ini diketahui berada di Yerusalem, sebagai bagian dari kunjungan 6 hari ke Timur Tengah.
Sabtu lalu, saat berpidato di Kairo, ia berjanji memberikan bantuan sebesar US$ 2,5 miliar nonmiliter untuk Timur Tengah, US$ 200 juta di antaranya diberikan untuk membantu memerangi ISIS.
PM Abe mengatakan, dunia akan mengalami kerusakan parah jika terorisme menyebar di Timur Tengah.
Bukan kali ini saja ISIS mempertontonkan sanderanya. Para tahanan adalah alat propaganda mereka.
Sebelumnya pada 16 November 2014, ISIS membunuh pekerja sosial AS yang mualaf, Abdul-Rahman Kassig -- setelah memenggal jurnalis AS James Foley dan Steven Sotloff. (Ein/Tnt)
Terkait hal tersebut, Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop menyatakan pemerintah terus berusaha menyelamatkan dua warga negaranya yang terancam dieksekusi mati.
Sebelumnya, Pemerintah Brasil dan Belanda memanggil pulang duta besar dari Indonesia sebagai bentuk protes atas warganya yang dieksekusi mati pada Minggu 18 Januari 2015. Selain itu, empat pengedar narkoba lain dari Vietnam, Malawi, Nigeria, dan Indonesia sendiri juga dieksekusi.
Seperti diberitakan AFP, Selasa (20/1/2015), enam orang tersebut merupakan korban eksekusi pertama di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia sangat mendukung kebijakan itu untuk memerangi peredaran narkoba.
Praktis, ketegasan Presiden Jokowi ini sangat membuat takut negara asing lain yang warganya akan dieksekusi. Khususnya, dua warga Australia yang tersangkut kasus Bali Nine. Kelompok itu coba menyelundupkan heroin ke Indonesia pada 2005.
Myuran Sukumaran, salah satu tersangka kasus Bali Nine, berusaha mengajukan banding, tapi pihak berwenang menegaskan dia akan dieksekusi bersama rekan senegaranya Andrew Chan. Saat ini Chan masih menunggu hasil banding yang diajukan.
MADHON NEWS DAMASKUS – ISIS militant groups demanding a ransom of USD 200 million or equivalent to Rp 2.4 trillion to free two hostages from Japan.
A video released ISIS shows two Japanese prisoners and an executioner who is being threatened with a knife. In addition, ISIS urged Japan not to assist the United States in Iraq and Syria.
"This knife will be your nightmare," said the executioner, as reported by Reuters on Tuesday (01/20/2015).
The Japanese government has not provided answers to a video released by the ISIS militant group.
"We are very concerned about this situation. However, we can not say anything now, "said a spokesman for the Ministry of Foreign Affairs of Japan.
Once elected as Prime Minister of Japan, Shinzo Abe issued a policy of non-combat troops to send to help the fight against ISIS.


